Sunday, September 2, 2012
It's a girl's thing.....


Friends...I don't know about you, ya... tapi buat gue temen itu penting. Penting banget malah. Soalnya, selama lebih dari seperempat abad hidup gue ini, semua manis pahit kehidupan gue lalui dengan adanya orang orang disekitar gue, and di luar keluarga gue mostly they are my friends. Rasanya, biarpun kita berada di situasi yang paling kacrut sekalipun, kalo ada temen semua masalah itu nampak lebih mudah terlewati.

Gue adalah orang yang sering nggak PD. Dulu, waktu gue kecil (hmm...nggak kecil kecil amat kali ya, minimal lebih muda lah dari sekarang), malah lebih obvious ketidak PD-an gue itu karena gue suka ngerasa nggak cantik lah, nggak pinter pinter amat, nggak populer dan nggak punya bakat apa apa yang pada saat itu menurut gue adalah alasan kenapa some people have so many friends around them. Gue cukup sering menatap iri ke temen-teman gue yang sepertinya didn't have to do much to have people lining up to be their friend. Ada masanya gue berusaha keras untuk be 'somebody' not just anybody, to get accepted di lingkungan circle of friends gue. Rasanya gue harus jadi bagian dari friendship clique tertentu untuk bisa eksis. Ada masanya gue blend in, dan 'not be myself'. Gue boost PD gue, gue try to win some friends for me. Gue lupakan ego gue sementara, gue melakukan apa yang temen temen gue lakukan, walau kadang kadang gue nggak bisa ngerti apa enaknya, anything to be a part of them, to be recognized, to feel jadi bagian dari this big existence called "FRIENDSHIP".

Took me a long hard while to realize, friends are not supposed to be won over .

So many people around us, yang ngobrol sama kita, makan dan ketawa sama kita, nggak semuanya bisa dimasukin kategori friends. Kenalan mungkin.....acquaintance kalo kata bahasa inggrisnya mah. Ini biasanya orang orang yang kita kenal di permukaannya aja, kalo ketemu say hello, tapi temen lebih ke yang hubungannya mendalam...people yang ngertiin kita, yang liking us for who we are. Sekarang gue ngerasa nggak perlu usaha keras buat jadi orang yang 'bukan gue banget' buat impress people. Selama gue nggak ganggu orang, this is me, not perfect, just perfectly me. Glad if I can be your friend, but won't die if you didn't want to be mine.  Life's too short for such complications...right?
Pernah denger nggak wise saying ini:

"Real friends....
are people who walk in,
when others walk out..."

gue berpegang teguh sama masukan di atas. Temen yang memang bener-bener temen adalah mereka yang stick with you even though you are in the deepest pile of s**t. Walaupun mungkin mereka ngga bisa bantu banyak atau melakukan apa apa, paling enggak, by being there...they give you moral support... that's what being friends all about di mata gue. Bukan mereka yang hanya ada disekitar elo pada saat everything's hunky dory, semua serba menyenangkan. Ehm...ini nggak berarti temen yang beneran temen hanya ada pas kita susah aja lho...tapi happiness shared with people who really care for us, is truly thousands times better, seperti halnya sadness yang dipikul sama sama, will pass us thousands times faster.

Friends - what would I do without them…bener banget tuh, gue rasa se-loner lonernya seorang perempuan, pasti butuh keberadaan temen. Seperti gue membutuhkan temen-temen gue.
Gue musti berpikir keras, kapan tepatnya gue mulai bertemen sama my girls…karena masing masing dari mereka punya posisi dan komposisi yang unik dalam hidup gue. Masing masing punya cerita yang sedikit banyak ikut ngebentuk siapa gue sekarang ini.

CERITA LUCY

Seperti Lucy, misalnya…prototype perempuan metropolis yang langsung bisa merebut gelar fun fearless female tanpa harus keluar keringet. Semuanya ada di Lucy. Cantik? Tentuuuu…temen? Banyaaak…gue jadi inget waktu baru kenal Lucy di tahun pertama kita kuliah, gue sempet mengira dia itu nggak satu angkatan sama gue, secara dia kenalannya serenceng….dari mulai anak basket sampe anak senat fakultas lain yang sering menyapa dia di hall kampus. Jangan tanya kalau Lucy menampakkan diri di kantin…biarpun kantin sedang penuh di peak hour makan siang, pasti dia dapet aja tempat duduk. Gue lebih amazed lagi, begitu tau Lucy itu nggak cuma ngetop karena cakep aja…she’s a brainiac!  Lucy tuh type orang yang bisa bisanya tidur waktu dosen biologi lagi nerangin segala tetek bengek soal neuron dan sel sel otak, nongkrong ngopi sampe lewat tengah malam, nggak pernah ngoyo belajar, tapi tetep dapet A waktu mid test. Yap, she’s the kind of rare lucky people, saudara saudara…nggak kayak gue yang mampus mampusan dengerin kuliah pagi, mencoba mendongkrak mata yang ngantuk waktu menghafal istilah istilah aneh di system belajar kebut semalam gue, coba bikin kebetan panjang yang ditulis di lengan, tapi teteeeup aja C+ porsi nilai gue. Now THAT’s my kind of lucky J. But anyway, Lucy is my friend. Nggak taulah gimana awalnya kita jadi deket, tapi yang jelas we clicked.

Seperti yang sudah gue duga, dari semua my girls, Lucy lah yang pertama memulai nulis skripsi. Sementara kita masih asik asik pacaran dan menikmati kampus, Lucy sudah mulai mikir topik buat skripsinya. “anjrit, euy…si Lucy udah cari cari bahan skripsi aja…gue nih, lagi lagi gue nggak lulus statistik…gimana nasib gue dooong girls…masak semester depan gue musti cuti??” seperti biasa dilemma gue berkisar kebututan otak gue dalam hal matematika. Tapi herannya kalo soal duit, cepet banget otak gue berputar. My girls cuma ketawa dan menenangkan gue…”ya ampun, Sa… lagian lo mau nyamain si Lucy…dia mah anomaly, bisa sakit hati lo kalo ngebandinginnya sama dia…” Sementara itu Lucynya sendiri cuma nyengir sambil menikmati sosis goreng kesukaannya. “Gue ngejar ijin kawin, mak….si Dylan udah ngajak married, tapi bokap nyokap gue bilang nggak ada cerita deh, kawin kawin kalo gue belom lulus kuliah…” ujarnya dengan santai.

Oh damn…sekarang Lucy bukan hanya satu langkah di depan kita kita…dia seperti sudah nyewa Event Organizer buat bikin hidupnya begitu sempurna. Diusia muda, kuliah sambil bekerja part time di sebuah perusahaan ternama, sudah punya pacar mapan yang siap meminangnya begitu gelar sarjana di dapat. Dan if you knew Lucy the way we did, itu sama sekali bukan masalah! Dugaan kita sahabat sahabatnya pun terbukti, waktu suatu pagi kita sarapan bareng di kantin, sambil menunggu Lucy sidang skripsi exactly 6 bulan setelah proposal skripsinya dimasukkan. Lucy lulus dengan nilai yang…tentunya cemerlang! Aaah…nggak habis habisnya keberuntungan sahabat gue yang satu ini. Dylan, eksekutif muda yang setahun terakhir ini jadi pacar Lucy tidak menyia nyiakan kesempatan ini untuk meminang Lucy saat itu juga, di depan kita semua, di tengah kantin kampus yang mulai ramai, Dylan mengeluarkan sebentuk cincin berlian, layaknya sebuah pinangan yang sempurna. Bohong kalo gue, dan gue bicara mewakili my girls juga sepertinya, nggak hijau karena iri melihat semua kemudahan yang Lucy dapat. Sepertinya semua itu too good to be true. Ingin rasanya bertukar tempat dengan Lucy, bisa menikmati dunia dari sudutnya yang sungguh seperti dicomot langsung dari cerita fairy tale. Tapi, hey! We are happy when she is happy…that’s what friends are for, right???

Maka sibuklah my girls merancang pernikahan Lucy. Dari mulai seragam, bachelorette party sampai piala bergilir yang kita siapkan untuk diberikan di atas pelaminan, saat my girls satu persatu menemukan tambatan hati. Mixed emotions alias perasaan nggak karuan melihat dan menjadi saksi salah satu dari kita berjanji sehidup semati untuk bersama seorang cowok. Antara senang melihat Lucy bahagia, sambil mikir: kapaaan ya giliran gue? Hehehehe. Nggak apa apa kan, manusiawi dong. Namanya juga manusia, sebahagia bahagianya kita melihat kebahagiaan orang lain, buntut buntutnya kembali ke diri sendiri.   

***

Cuaca sedang nggak bersahabat waktu gue mengarahkan mobil ke daerah kemang. My girls ngajak ‘buka kamar’, alias nginep di hotel, dimana kita menyewa satu kamar besar untuk bersama sama. Ini salah satu bentuk pelepasan suntuk kita kalau baru selesai ujian akhir semester dan perayaan beberapa oknum my girls yang ulang tahun. Setelah kurang lebih 5 bulanan nggak ketemuan sama Lucy, buka kamar kali ini sekalian jadi ajang temu kangen dan wawancara non formal tentang gimana kehidupan pernikahan sebenarnya. Gue kebagian jemput Lucy yang rumahnya sejalan sama rumah gue. Belom lama setelah Lucy masuk mobil gue dan cipika cipiki, dia duduk di samping gue dengan wajah sedikit beda. Seperti sedang nahan pipis kalau boleh gue tebak…tapi ternyata dia memang nahan sesuatu, yang tentunya bukan pipis. “Apa kabar lo, Sa…? Gue hamil nih…gimana ya reaksi anak anak kalo tau gue hamil? But to tell you the truth, I’m not thinking of keeping it” Cerita Lucy mengalir seperti air hujan tumpah dari langit, namun suara Lucy agak terdengar ragu ragu. “you WHAT???” gue terpekik sampai hampir injek rem dalam dalam. Gue ngelirik Lucy sambil nunggu dia ketawa atau apa, yang menandakan dia lagi bohong atau becanda. Ternyata enggak.

“What’s going on, Luce?” di kepala gue kayaknya gila aja nih si Lucy kalo emang serius sama omongannya barusan. Gue mencium adanya gelagat ngga enak, dan datang dari Lucy, kayaknya hal beginian aneh aja.
“Eh…tunggu tunggu deh, bentar lagi sampe hotel…nanti aja deh lo cerita sekalian ke anak anak  supaya nggak musti cerita ulang berkali kali” potong gue sebelom Lucy sempet cerita lebih detail.
“Nnngg…enggak Sa, gue pengen cerita ke elo dulu aja. Just you. Gue yakin anak anak akan bilang gue gila, dan nggak akan mau denger penjelasan gue….” Lucy ternyata serius.
“Oke…” gue takut salah ngomong. Sumpah takut, tapi penasaran “….tapi kenapa musti perlu penjelasan segala sih Luce… lo kan hamil ada bapaknya, dalam pernikahan….trus…kenapa juga lo mikir….” Gue berhenti ngomong waktu gue liat Lucy mulai sesengukan. Haiyyya….tuh kan gue salah ngomong!

“Itu dia, Sa…kok gue nggak happy ya waktu tau hamil? Kenapa cepet banget? I don’t want it, Sa…gue…gue…ih, perempuan macam apa sih Sa gue ini??” Lucy meremas remas tangannya sendiri, keliatan banget kalau dia gemes dan bingung. Gue mikir: apakah ini yang namanya hormonal imbalance? Katanya kan kalau seorang perempuan hamil, secara fisik terjadi perubahan gila gilaan, salah satunya perubahan hormonal, yang bisa mengakibatkan mood swings. Gue sendiri belom tau terlalu banyak, cuma sedikit sok tau aja.  Apalah artinya gue yang belom pernah hamil dan cuma dapet C+ di pelajaran biologi! Tapi gue tau banget kalau kenyataan bahwa dirinya hamil membuat Lucy nggak nyaman sama sekali.

“Dylan shut me down waktu tau gue hamil, Sa….gue nggak boleh lagi kerja, nggak boleh nge- gym, nggak boleh kemana mana….gue dikerem bulet bulet! Bisa gila gue Sa…I can’t be giving up my life just like THAT, ya kan? Not now….mungkin juga not ever….” Lucy termangu mendengar omongannya sendiri, sementara gue tetep berusaha konsentrasi nyupir ditengah badai…badai angin di luar dan badai emosi di dalam mobil. Aduh!

Di satu sisi gue mencoba mengerti keadaan dan perasaan Lucy, dia yang serba bisa, penuh potensi dan ambisi, mungkin benar adanya kalau kehadiran seorang bayi akan merubah segalanya. Tapi, kalau dipikir lebih jauh lagi...seharusnya kan Lucy tau kalau mempunyai anak adalah salah satu result dari sebuah pernikahan….bener nggak sih?

“Sa….menurut lo gue harus gimana?” Lucy menatap gue menunggu jawaban, padahal gue sumpah deh nggak tau musti ngomong apa.
“Luce,” akhirnya gue coba untuk bersikap netral, “sudah jalan berapa bulan kehamilan lo?”
“12 minggu, Sa…masih bisa kalo gue mau abort….”Lucy tertunduk, sadar kalau omongannya terdengar sadis. Gue pegang tangannya, dingiiiin banget.
“Lo udah bicarain sama Dylan?”tanya gue.
“Udah. Dylan ngamuk, Sa…ini gue aja mau ikutan nginep nggak bilang Dylan. Kalau dia tau pasti gue nggak akan dikasih pergi…”aku  Lucy pelan.

Merasa nggak enak karena nggak bisa kasih jalan keluar instant buat Lucy, gue cuma bisa jadi pendengar yang baik, karena gue cukup tau, terkadang kalau temen lagi curhat, all they need is to be heard. Nggak lebih. Gue berhenti cukup lama di parkiran, membiarkan Lucy mengeluarkan uneg unegnya dan gue memastikan kalau gue nggak sembarangan ngomong, gue pilih kata kata gue, menghindari provokasi. That’s the least I can do as her friend.

Gue percaya Lucy cukup dewasa untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk keluarganya. Untuk dirinya sendiri. Kadang kadang kalau one of my girls curhat di moment kumpul bareng begini, masalah kita bergerak dari masalah ‘pribadi’ menjadi masalah ‘bersama’. Ada nilai positif dari kebiasaan ini, secara all my girls akan urun rembuk berbagi ide, pengalaman dan cerita untuk mencari jalan keluar dari sebuah masalah. Try to be there for each other. Tapi jujurnya, nggak semua masalah menurut gue bisa dijadiin topik diskusi panel seperti ini. Ada kalanya teman teman kita bisa memberikan segala logika, rasio yang tak tebantahkan, tapi apa yang kita rasakan, apa kata hati kita seringkali nggak sejalan sama semua itu. Dan kadang setelah itu kita akan menjadi terlalu takut untuk mendengarkan apa kata hati kita, kalau sejumlah panelis yang notabene temen temen kita sendiri sepakat mengatakan kalau apa yang kita rasakan itu salah L.
Beberapa hari setelah curhat massal di acara ‘buka kamar’ itu, Lucy menelpon gue. Dia memutuskan untuk meneruskan kehamilannya. Gue berdoa, semoga aja keputusannya itu diambil berdasarkan hati, bukan semata peer pressure.

***

Di pertengahan bulan Oktober Lucy mengundang my girls untuk selamatan 40 hari lahirnya Aidan putra pertama Lucy dan Dylan. Kami para ‘tante’ tentunya dengan semangat membara menghujani keponakan kecil kami ini dengan berbagai kado dan doa. Lucy tampak bahagia. Dia menatap gue penuh arti sambil berbisik, “ Sa…gue rasa keeping Aidan adalah keputusan terbaik yang pernah gue ambil. I love him so much.”   

Butuh 5 bulan setelah itu, sampai suatu malam gue dibangunkan oleh deringan telpon genggam gue di jam 2 pagi. Gue sempat tertidur di depan komputer setelah semalaman berkutat dengan proposal skripsi. Dering telepon yang tak putus-putus memaksa gue duduk, berusaha mengumpulkan nyawa gue yang tercecer sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat telpon dari…Lucy!

“Yaaaaa…” jawab gue malas malasan. Manusia normal lainnya sedang tertidur lelap jam segini, jadi jangan salahkan gue karena kurang antusias menjawab telpon, walaupun itu dari sahabat gue sekalipun. Di seberang sana terdengar suara tangisan bayi yang cukup nyaring, dan samar samar gue denger suara tangisan orang dewasa juga, itu suara Lucy. Oh, God….ada apa ini? “Luce, kamu kenapa?? Aidan kenapa????” gue mulai panik.

 “Sa…gue nggak tau deh Aidan kenapa! Dia nggak mau berenti nangis. Gue cape, Sa….udah 3 malam gue nggak tidur…Dylan sih enak enak aja tidur….Saaaaaaaaa…ampun deh, gue mau mati aja!”suara Lucy terdengar bergetar, seperti bener bener putus asa. Gue pun bergegas mengganti piyama gue dengan jeans dan t-shirt, “OK-ok….Gue ke sana, Luce…”

Begitu sampai di rumah Lucy, gue disambut dengan tampang kusut Lucy yang menggendong Aidan. Bocah lucu itu benar benar ngamuk rupanya, tidak menyisakan keimutan sama sekali, Aidan lebih mirip bom waktu yang sudah mau meledak malam itu.

“Mau ke rumah sakit ? Ayo gue anter aja…kenapa sih dia, Luce? Sakit? Dylan kemana?”tanya gue agak membombardir. Lucy nggak menjawab, menyambar tas dan keperluan Aidan mengajak gue segera mengarah ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat.

Lucy menunggu sampai kita di mobil, sebelum dia ikutan nangis berderai air mata. Sukseslah mobil gue dipenuhi orang nangis! Untung gue bukan type orang celamitan yang langsung kepingin ikutan nangis juga.
Gue nggak ngerti apa yang dokter jaga lakukan ke Aidan, tapi yang jelas bayi ngamuk tadi sudah anteng bobo dalam beberapa menit. Lucy tampak capek banget, tapi kelihatan lebih tenang karena Aidan sudah tenang.

“Gue sebel sama Dylan, Sa…kemarin waktu Aidan susah tidur, nangis nangis, Dylan malah marah sama gue. Suruh diem tuh anakmu, kata dia, gue butuh tidur. ….emangnya Aidan itu cuma anak gue aja???? Kan anak dia juga, Sa… terus tadi waktu Aidan ngamuk lagi, Dylan malah pindah tidur di pavilliun…bukannya bantuin gue.” Lucy kembali berlinangan ai mata. “Alasan Dylan selalu sama; kamu kan besok nggak harus ke kantor…memang dia pikir gue di rumah seneng seneng??? Sini kalo mau tukeran sama gue….biar gue yang ngantor, dia yang jaga Aidan….”suara Lucy mengeras, dan Aidan bergerak dalam tidurnya. Oh no, jangan sampe dia ngamuk lagi aja! Untung sepertinya Aidan sudah kecapekan nangis, jadi dia meneruskan tidur. Disitulah gue menyadari, Lucy belom bisa sepenuhnya merelakan status active girl-nya berubah menjadi stay home mom. Lucy masih menangis sepanjang jalan, dia berbisik,”Gue ibu yang jahat, ya Sa…? Tapi I don’t like my life right now….even with Aidan in it.

“Lo nggak jahat, Luce…lo pasti sayang Aidan….mungkin lo cuma nggak suka dan belom terbiasa sama keadaan sekarang…baby blues aja kali, say…you’ll manage…gue tau, elo orang paling capable yang gue kenal…sabar ya, kan ada kita kita…” itu adalah sebait rayuan gombal ala gue yang saat itu bisa gue kerahkan buat menenangkan Lucy. “Naaah, now that you are up, tolong proofread proposal skripsi gue yah….”gue nyengir berusaha push my limit. Untungnya jebakan gue berhasil J.     

***

Di pesta ulang tahun Aidan yang ke dua, Lucy mengumumkan berita diterimanya dia di sebuah perusahaan international ternama ke my girls. “I’m going back to work, girls!”serunya bahagia. Tergambar jelas excitement di setiap tarikan senyumnya. Hell yeah, girls rule! Kita cuma kaget karena sebelumnya, yang kita dengar adalah justru Dylan, suami Lucy yang tertarik untuk hijrah ke perusahaan tersebut.  Ada sedikit rasa nggak tega untuk ngingetin Lucy, bahwa mungkin Dylan nggak akan terlalu nyaman dengan berita bahagia-nya itu. Dan dengan sangat menyesal, dugaan kita ternyata benar.
“loh…kenapa juga dia musti sewot, Sa….come on….ini kan fair, kita sama sama applied. I ended up getting the job, memang bagian mananya yang salah gue?? he should just suck it up….enggak laaa dia nggak marah”elak Lucy penuh keyakinan waktu gue coba kasih tau soal Dylan. Oh well, mungkin Lucy lebih tau bagaimana Dylan, so I simply shut up. 

Gue pribadi nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Dylan yang akhirnya mutung, karena kalah dalam persaingan. He’s a guy after all. Tidak mudah untuk menerima kekalahan dari rival kita, apalagi kalau rival yang mengalahkan kita justru sang istri tercinta? Yang gue sayangkan disini adalah keputusan Lucy untuk tetep try out for the job, walaupun dia tau Dylan juga mengejar posisi di sana. Apa nggak ada tempat kerja lain sih? Mungkin orang akan mikir seperti itu, tapi gue cukup kenal Lucy. Disini sepertinya ego Lucy bicara. Lucy dari dulu selalu punya ambisi untuk perform, karena simple aja…Lucy memang punya kemampuan yang lebih dari cukup untuk itu. Lebih dari dua tahun sudah Lucy menekan ambisinya dalam dalam dan menjalani posisinya sebagai istri rumahan teladan. Dulu hambatan sekaligus prioritas utama dalam hidupnya adalah Aidan yang masih sangat bergantung dengan keberadaan Lucy di rumah. Namun sekarang, Aidan sudah mulai bisa diajak kompromi, sudah nggak rewel kalau dititipkan di rumah orangtua Lucy yang tidak jauh dari kantor. Lalu tunggu apa lagi? Enough waiting…it’s time to shine…dia butuh moment pembuktian diri, and she took the chance.

Hanya sayangnya, it might cost her….her marriage.

 Tidak semua my girls menyadari pernikahan Lucy mulai mengalami keretakan setelah kejadian di ulang tahun Aidan waktu itu. Tapi gue tau. Lucy sendiri sangat bahagia mendapatkan kembali girl powernya, pengakuan dari dunia bahwa ia mampu setara dengan sekumpulan manusia sukses di luar sana. Kemapanan dan kemandiriannya secara finansial belakangan ini pun mulai menjadi duri dalam daging. Dylan yang dulu nampak percaya diri dan superior dalam perkawinan mereka, semakin kehilangan ‘sinar’ nya. Outshined by his own darling wife.

Hubungan Lucy yang mulai nggak harmonis dengan Dylan tampak jelas waktu keduanya datang sendiri sendiri ke resepsi pernikahan gue. Lucy datang membawa Aidan, sementara Dylan datang bersama some girl yang dikenalkannya ke kita sebagai temen di kantor. Oy! Even I know it means trouble….Herannya, Lucy sendiri tampak tenang, seperti tidak terganggu sama sekali dengan hadirnya si ‘temen kantor’ Dylan.

Waktu akhirnya kita punya waktu untuk ngumpul dan bertukar cerita lagi, Lucy dengan tegar mengumumkan kalau dia dan Dylan sudah sepakat untuk bercerai. Proses sidang cerai sudah hampir selesai dan Lucy mendapat hak asuh Aidan secara penuh. Sungguh ironis kalau dipikir bagaimana sidang perceraian mereka berlangsung begitu cepat dan lancar, secepat pinangan pernikahan dari Dylan setelah sidang skripsi Lucy 4 tahun yang lalu. Mungkin ada benarnya all that speech mengenai roda kehidupan yang setiap saat dapat bergerak dengan tempo yang tak bisa di duga. Kadang roda kita sedang berada di putaran atas dan life seems easy, next thing we know kita sedang terpuruk di putaran terbawah.

“Oh ya, by the way….akhir bulan depan lo semua diundang Dylan untuk dateng ke kawinannya dia ya” kata Lucy menutup pengumumannya. Ada nada miris di suaranya. Kita semua sempet speechless, tapi mau bilang apa kalau memang faktanya seperti itu. Lucy bilang ini keputusan yang terbaik untuk saat ini, buat dia, buat Dylan walau kini keluarga kecil mereka harus terpecah. Lucy janji dia akan usahakan semua yang dia bisa untuk kebahagiaan Aidan, tapi untuk tetap berada di dalam ikatan pernikahan yang sudah kehilangan persamaan visi, misi, dan cinta….. tampaknya bukan pilihan win – win yang bisa Lucy ambil.      

Gue nggak pernah sekalipun mengira gambaran seperti inilah yang ada di kehidupan seorang Lucy, looking back di 4 tahun yang lalu. Lucy the anomaly yang selalu pertama mencapai finish line, Lucy yang selalu kita pikir untouchable dari segala masalah dan kesulitan. Lucy cuma manusia biasa. Seperti gue, seperti all my girls dengan porsi masalah kita masing masing.

Manusia memang hanya bisa berencana.
  


 /shn2010
posted by shantz at 3:05 PM - 0 comments

About Me
Name: shantz
Home:
Jakarta, Bekasi, Indonesia
About Me:
simple-bawel-nyengir-ketawa gila,cicip-cemal-cemil lover, food addict,sing-a-long freak...all that made me ...ME
See my profile...

Previous Post
Archives
Links
Credits


background by tayler